PODCAST SEBAGAI MEDIA BARU BAGI KAUM MILLENIAL UNTUK MENGUNGKAPKAN PERASAAN MEREKA.
Pada tahun 2001, Apple meluncurkan pemutar audio digital genggam pertama yang mereka namakan sebagai iPod. Pemutar audio digital tersebut merupakan pemutar yang paling popular pada kelasnya, dengan jumlah unit terjual sebanyak lebih dari 40 juta selama lima tahun. iPod pada generasi pertama memiliki kapasitas memori sebesar 5GB dan dapat menyimpan hingga 1.000 lagu. Kemudian iPod terus berkembang dengan bentuk yang lebih kecil namun dengan kapasitas memori yang lebih besar. Besarnya kapasitas yang mampu ditampung oleh sebuah podcast selain dapat dimanfaatkan sebagai media mengunduh dan menikmati musik, iPod memungkinkan untuk menyediakan bentuk media audio baru, yang kemudian disebut sebagai podcast (Rainsbury & Mcdonnell, 2006).
Perkembangan podcast ini sudah mulai banyak di Indonesia, namun tak sebegitu digandrungi seperti di Eropa dan Amerika. Tapi akhir akhir ini, podcast lagi banyak digandrungi oleh para millenial. Karena melalui podcast tersebut para anak muda ini dapat menyampaikan aspirasi dan keluh kesah, serta dapat memperbaiki kecakapan mereka dalam berbicara dengan sesamanya. Berbicara di podcast memang lebih nyaman daripada berbicara langsung dengan yang bersangkutan. Pasalnya di podcast kita bisa bebas menyampaikan aspirasi, keluh kesah, dan unek unek kita kepada siapapun. Jadi melalui podcast ini selain dijadikan sebagai media komunikasi juga bisa dijadikan sebagai media pendidikan bagi para pendengarnya. Podcast yang baik adalah podcast yang bisa membawa pendengar merasakan apa yang dirasakan oleh narasumber atau pembicara di podcast.
Dan bagi mereka yang
gemar mendengarkan. Mereka akan menerima banyak hal dari mendengarkan podcast
tersebut. Mereka bisa mendapatkan inspirasi dari cerita yang dibawakan dalam
podcast tersebut. Mendengarkan podcast ini sebenarnya banyak manfaatnya, karena
cerita cerita yang dibawakan disetiap episodenya berbeda dan sangat
menginspiratif. Podcast ini sekarang juga sudah tersedia diberbagai platform
platform, seperti spotify, apple podcast dan masih banyak lagi. Podcast ini
sekarang juga bisa menghasilkan uang. Tak heran sekarang banyak pocaster yang
bagus bagus di negeri kita ini. Sebut saja Dera Firmansyah dari Podcast Teman
Tidur, Tsana dari Podcast Rintik Sedu, Bagas dari Podcast Kita dan Waktu, dan
masih banyak lagi. Tak heran, para podcaster menjadikan podcast ini sebagai
pekerjaan tetap mereka. Mereka hanya berbicara atau meneceritakan pengalaman
pribadi atau pengalaman orang lain, kemudian dari situ mereka bisa mendapatkan
sponsor yang bisa menghasilkan pundi pundi yang mengalir kedalam atm mereka.
Podcast ini sebenarnya
hampir sama dengan radio. Yang membedakan, jika dipodcast audio tersebut bisa
di edit terlebih dahulu sebelum di post, dan radio merupakan siaran live yang
langsung mengudara. Tingkat kenyamanan dalam berbicara secara langsung dengan
berbicara melalui media sangat jelas berbeda. Ya mungkin karena dalam pembuatan
podcast ini diperlukan keheningan dan disitulah kita bisa mengeluarkan isi hati
dan pikiran mereka. Tapi sayangnya, beberapa dari teman teman ini yang enggan
membuat dan melakukan rekaman podcast, karena mereka menilai bahwa diri mereka
sangat gagap dalam berbicara, apalagi berbicara didepan umum, dan dindengarkan
oleh banyak orang. Padahal, kalau saja mereka mau podcast ini bisa dijadikan kegiatan sampingan
mereka saat merasa bosan atau mengisi waktu luang mereka di saat pandemic seperti
ini. Karena dalam melakukan rekaman di podcast ini juga lumayan seru, karena
kita bisa mendengarkan cerita dari teman teman kita, selain itu kita juga bisa
memberi dukungan atau ikut berkomentar atas cerita atau masalah teman kita yang
mau ceritanya diangkat menjadi bahan podcast.

Comments
Post a Comment